Pritta Astuti Suryaningtyas (11-023)
M. Rizki Nugroho (11-062)
Ayu Puspita (11-078)
Bagaimana sih persinggungan antara teknologi dan pendidikan ?
Penggunaan teknologi seperti komputer, infocus, internet dan sebagai nya jelas sangat bersinggungan dengan pendidikan pada saat ini, dimana sekarang ini baik pengajar maupun murid nya di tuntut untuk dapat menggunakan komputer, infocus, internet dan sebagainya guna mendukung proses belajar dan mengajar serta proses pembelajaran. Teknologi tersebut pada khusus nya juga dapan digunakan sebagai sumber informasi dan media pembelajaran yang efektif, serta dapat meningkatkan kreatifitas baik pengajar maupun murid.
Dapatkah standar untuk murid yang "melek teknologi" di terapkan di Indonesia ?
Penerapan standar ini belum bisa dilakukan di Indonesia belum dapat di maksimalkan.
Contoh nya Standar pada pra taman kanak-kanak sampai grade dua.
Pada tingkatan ini harusnya anak sudah dapat menggunakan mouse,keyboard dan alat output seperti monitor dan printer untuk mengoperasikan komputer. sedangkan pendidikan di Indonesia pada tingkatan ini lebih menekan kan cara-cara bersosialisasi dengan teman sebaya .
Terlebih lagi anak-anak belum siap untuk untuk mengoperasikan perangkat tersebut.
Pandangan kami tentang ubiquitos computing
Ubiquitos Computing , yaitu mendistribusikan komputer ke lingkungan, yang maksudnya kita bisa mengakses informasi dimana saja dan kapan saja, dimana informasi lah yang membanjiri kita.
namun hal ini pun memiliki 2 sisi, yaitu positif dan negatif.
sisi positif nya yaitu, kita dapat kan informasi yang kita mau, dengan cepat, dan kapan mun dimana pun.
sedangkan sisi negatif nya adalah berkurang nya privasi perorangan, serta jika salah dalam penggunaan nya justru malah bisa membuat kita rusak. Untuk itulah diperlukan "melek teknologi" untuk dapat menerapkan ini, dimana kita sudah lebih tau sampai mana batasan penggunaan teknologi itu.
Selasa, 24 April 2012
Senin, 09 April 2012
Tugas bersama
Ajeng Diah Andhini (11-024)
Ayu Puspita (11-078)
Liandra Khairunnisa (11-100)
Ayu Puspita (11-078)
Liandra Khairunnisa (11-100)
1. Kedudukan Psikologi Sekolah dalam ilmu Psikologi
Psikologi sekolah
merupakan bagian dari psikologi pendidikan. Psikologi sekolah mempelajari tentang proses mental dan perilaku dalam ruang lingkup lingkungan sekolah. Psikologi sekolah
berfokus pada siswa, guru selaku pengajar, serta orangtua siswa.
2. Perbedaan Psikologi Sekolah dan Psikologi Pendidikan
Psikologi
pendidikan : mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan
keefektifan suatu pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi
sekolah.
Psikologi sekolah :
usaha untuk menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam
mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.
Jadi, psikologi pendidikan adalah pokoknya (berhubungan dengan cara pengajaran), sedamgkan psikologi sekolah adalqah cabangnya (berhubungan dengan anak didik di sebuah instansi sekolah)
Jadi, psikologi pendidikan adalah pokoknya (berhubungan dengan cara pengajaran), sedamgkan psikologi sekolah adalqah cabangnya (berhubungan dengan anak didik di sebuah instansi sekolah)
3. Fungsi sekolah sebagai agen perubahan
Sekolah seharusnya memiliki fungsi dan peran dalam perubahan -perubahan masyarakat menuju ke arah perbaikan
dalam segala aspek. Dalam hal ini, sekolah memiliki dua karakter secara umum.
Pertama, melaksanakan peranan fungsi dan harapan untuk mencapai tujuan dari
sebuah sistem. Kedua, mengenali individu yang berbeda-beda dalam peserta didik
yang memiliki kepribadian dan disposisi kebutuhan.
Sebagai agen
perubahan sekolah berfungsi sebagai alat :
- Pengembangan pribadi
- Pengembangan budaya
- Pengembangan bangsa
- Pengembangan warga
4. Metode dalam sistem pengajaran di sekolah dapat berupa :
- Metode ceramah
Bahan pelajaran disajikan oleh guru sehingga siswa
memahami informasi dari materi pelajaran.
2.
Metode diskusi
Penyajian bahan pelajaran
melalui suatu masalah yang harus diselesaikan secara
bersama dengan bimbingan guru.
- Metode demonstrasi
Penyajian pelajaran dengan
mempertunjukkan secara langsung pada objeknya atau caranya melakukan sesuatu.
5. Permasalahan-permasalahan Psikologi sekolah
Masalah yang sering
terjadi di sekolah adalah masalah absensi, cabut, kurang aktif dalam belajar,
tidak membuat tugas, berkelahi dengan teman, dsb. Hal ini dapat diatasi dengan
cara pendekatan awal dengan siswa, mencari tahu apa penyebab mereka melakukan
hal itu, kemudian kita carikan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah siswa
tersebut. Misalnya jika ia sering absen kita cari tahu apa alasan mengapa hal
itu terjadi apa karena ia memang orang yang tergolong malas, tidak suka dengan
pelajaran yang akan dihadapi, atau ada hal-hal lain yang menyebabkan ia sering
melakukan absen. Setelah kita tahu apa alasannya selanjutnya kita melakukan
pendekatan dengan menekankan bahwa absensi itu sangat berpengaruh kepada
prestasi dia di sekolah, semakin dia rajin untuk datang semakin mengerti pula
dia dengan pelajaran yang diajarkan. Walaupun pada konteksnya dia tidak suka
dengan pelajaran itu, namun kita dapat menyuruhnya untuk dapat hadir dan duduk
tenang dan tidak perlu melakukan hal apapun, jika hal ini terjadi secara terus
menerusmaka lama kelamaan ia akan terbiasa untuk dapat hadir dikelas tanpa ada
absensi.
6. Fungsi dan peranan Psikolog sekolah dan Psikologi
sekolah
Fungsi & Peran psikolog sekolah
- Memberikan
konseling, pengajaran, dan pendampingan bagi mereka berjuang dengan masalah
sosial, emosi, dan perilaku
-Meningkatkan
prestasi dengan menilai hambatan belajar dan menentukan strategi instruksional
terbaik untuk meningkatkan pembelajaran
-Mempromosikan
kesehatan dan ketahanan dengan memperkuat komunikasi dan keterampilan sosial,
pemecahan masalah, manajemen kemarahan, self-regulasi, penentuan nasib sendiri,
dan optimism
-Meningkatkan pemahaman dan penerimaan beragam budaya
dan latar belakang
Fungsi & Peran psikologi sekolah
-Pengukuran kesiapan
pendidikan, memungkinkan pelajar untuk mendapatkan manfaat semaksimal mungkin
dari fasilitas yang diberikan sekolah
-Pengukuran prestasi belajar,
kegunaannya terbagi 3 yaitu :
a.fungsi instruksional yaitu menemukan
kesukitan dalam belajar dan atau keperluan perbaikan dalam proses belajar
mengajar
b.fungsi administrative berkaitan dengan
penyaringan siswa, pemberian status akhir kepada siswa, dan mengevaluasi hasil
belajar mengajar siswa
c.fungsi bimbingan yaitu menemukan
kemampuan-kemampuan yang belum terlihat, dan memabntu memilih jurusan sesuai
dengan kemampuan siswa.
7. Hal-hal yang diberikan dalam kaitannya dengan layanan
psikologi sekolah
a. memberikan pelayanan tes intelegensi
b. melakukan wawancara dengan siswa, mahasiswa, guru atau dosen, orangtua,
serta orang yang terlibat dalam pendidikan siswa atau mahasiswa
c. melakukan observasi siswa di kelas, tempat bermain, serta tempat
kegiatan lainnnya
d. mempelajari data kumulatif prestasi belajar siswa
e. memberikan konsultasi bagi sekolah dalam menyelesaikan berbagai masalah
di sekolah, serta membantu menyeleksi, penempatan, serta urusan personalia
lainnya.
8. Peranan Psikolog sekolah, Psikolog pendidikan, dan
guru BP.
a.psikolog sekolah,
lebih kepada pengembangan kelas yang berhubungan dengan siswa dan guru, serta
memantau prestasi, dan motvasi siswa
b.psikolog pendidikan,
mengenai pendidikan sejak pra-sekolah sampai perguruan tinggi
c.guru BK, focus pada
siswa, mengembangkan minat, bakat serta potensi yang dimiliki siswa
Kamis, 05 April 2012
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Tugas Kelompok
Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan yang dilaksanakan
sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu pembinaan terhadap
anak yang dilakukan sejak anak berusia nol sampai enam tahun melalui
pemberian rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan otak,
jasmani, dan rohani sehingga anak akan lebih siap dalam menghadapi atau
melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya baik dalam jalur
pendidikan formal, nonformal maupun informal.
Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini bahkan sejak dalam kandungan sangat menentukan derajat kualitas kesehatan, cipta, rasa dan karsa. Dengan demikian investasi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini merupakan investasi sangat penting bagi sumber daya manusia yang berkualitas.
Berikut ini merupakan berbagai macam aspek perkembangan kognitif , fisik dan sosio-emosional dari perkembangan anak usia dini :
1. Aspek Perkembangan Kognitif
Tahapan Perkembangan Kognitif sesuai dengan teori Piaget adalah:
(1) Tahap sensorimotor, usia 0 – 2 tahun. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahas awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja;
(2) Tahap pra-operasional, usia 2 – 7 tahun. Masa ini kemampuan menerima rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas;
(3) Tahap konkret operasional, 7 – 11 tahun. Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan membagi;
(4) Tahap formal operasional, usia 11 – 15 tahun. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi, mampu berfikir abstrak.
2. Aspek Perkembangan Fisik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi (Hurlock: 1998). Keterampilan motorik anak terdiri atas keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik anak usia 4-5 tahun lebih banyak berkembang pada motorik kasar, setelah usia 5 tahun baru.terjadi perkembangan motorik halus.
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi kegiatan itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga untuk beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani mengambil resiko dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu obyek, berlari kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan orangtuanya (Santrock,1995: 225)
3. Aspek Perkembangan Sosio-Emosional
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.
Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan sosial anak:
(1) Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenamgkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga;
(2) Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya. Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu;
(3) Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.
Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan ber interaksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah;
(4) Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – pubertas. Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.
Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini bahkan sejak dalam kandungan sangat menentukan derajat kualitas kesehatan, cipta, rasa dan karsa. Dengan demikian investasi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini merupakan investasi sangat penting bagi sumber daya manusia yang berkualitas.
Berikut ini merupakan berbagai macam aspek perkembangan kognitif , fisik dan sosio-emosional dari perkembangan anak usia dini :
1. Aspek Perkembangan Kognitif
Tahapan Perkembangan Kognitif sesuai dengan teori Piaget adalah:
(1) Tahap sensorimotor, usia 0 – 2 tahun. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahas awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja;
(2) Tahap pra-operasional, usia 2 – 7 tahun. Masa ini kemampuan menerima rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas;
(3) Tahap konkret operasional, 7 – 11 tahun. Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan membagi;
(4) Tahap formal operasional, usia 11 – 15 tahun. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi, mampu berfikir abstrak.
2. Aspek Perkembangan Fisik
Perkembangan motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi (Hurlock: 1998). Keterampilan motorik anak terdiri atas keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik anak usia 4-5 tahun lebih banyak berkembang pada motorik kasar, setelah usia 5 tahun baru.terjadi perkembangan motorik halus.
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi kegiatan itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga untuk beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani mengambil resiko dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu obyek, berlari kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan orangtuanya (Santrock,1995: 225)
3. Aspek Perkembangan Sosio-Emosional
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.
Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan sosial anak:
(1) Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenamgkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga;
(2) Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya. Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu;
(3) Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.
Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan ber interaksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah;
(4) Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – pubertas. Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.
Langganan:
Postingan (Atom)